Berita Humas: Sembari menikmati hari libur santai bersama keluarga, dan yang pasti semoga psykologis kita semakin membaik dari rasa kecemasan yang berkepajangan pada getar getar bumi yang mencekam, kali ini redaksi humas dan informasi ingin mengisi ruang baca dengan sajian informasi ringan sederhana namun diharapkan memiliki sebuah makna, Ahad (09/09)

Dalam diskusi lepas melalui salah satu media group what sapp yang saya ikuti, kayaknya menarik untuk dijadikan bahan renungan, kalimat sederhana namun sangat filosofis tentu tidak mudah dicerna seketika, melainkan memerlukan perenungan untuk melahirkan sebuah makna.

Mutawali menulis dalam WAG bahwa membaca dan mencoba memahami pandangan seseorang tentang suatu gagasan atau mungkin sebuah kebijakan dapat dipastikan terdapat kelemahan. Karena kalau tidak ada kelemahan, maka itu berarti telah terjadi kontradiksi dengan sifat objektif manusia yang memang lemah dan bisa salah.

Karena itu, orang yang menyadari kelemahan orang, dengan cara yang elegan, memberikan masukan, mendatangi dan kemudian memberi saran, tanpa mengumbarnya di media masa, itulah orang yang arif. Saya percaya, insya Allah, masukannya akan diterima dengan penuh kesadaran.

Sebaliknya, kalau hanya mengkritik, apalagi tidak dilakukan dengan bijak, maka pada akhirnya, keritikan tersebut akan menjadi “pencitraan”. Pencitraan adalah simbul keangkuhan intelektual sekaligus spritual. Dengan pencitraan, jangankan Tuhan mau mendekat, iblis pun akan semakin menjauh.

Marilah, memberikan masukan dengan penuh ketulusan agar bernilai ibadah. Itulah sebabnya, mengapa para ulama’ terdahulu mengakhiri setiap tulisan dan karya karya mereka dengan kalimat Wallahu A’lam.  Pesan penting yang ingin disampaikan adalah setidaknya kita perlu bijak dalam setiap keadaan, terkadang diam atau mendengarkan orang lain lebih penting ketimbang bicara, apalagi bicara sendiri. Wallahu A’lam (Adita@humasuin)

 

 

%d blogger menyukai ini: