Berita Humas: Guru Besar Filsafat Universitas Islam Negeri Mataram Prof. Dr. H. Mutawali angkat bicara dalam eforia cerita gempa ditengah suasana sebagai pengungsi bersama warga, menikmati alam terbuka beratapkan spanduk bekas seadanya, menahan semilir angin malam menembus tulang, semua merasakan derita yang sama terpaut asa diantara ribuan tenda, (22/08)

Lebaran idul Adha kali ini merupakan hari raya yang dirasakan sedikit berbeda dari biasanya, hampir semua memanfaatkan lapangan dan jalan serta tempat terbuka lainnya untuk dijadikan sebagai lokasi pelaksanaan Idul adha, karena hampir sebagian besar masjid dan musholla tidak difungsikan lagi dengan alasan keamanan akibat gempa yang menghantam beberapa kali dalam bulan ini.

Musibah adalah panggung untuk introspeksi diri, boleh jadi lebaran kali ini merupakan momen panen panen pahala kesabaran dalam menghadapi berbagai ujian dari Allah, sesungguhnya berbagai musibah seperti gempa bumi, angina puting beliung, tanah longsor dan yang lainnya hendaknya diterima sebagai rangkaian deretan ujian dari Allah.

Sejak cahaya fajar 10 Dzulhijjah menyingsing di ufuk timur, umat Islam di seluruh dunia, di seluruh benua dan samudera, di delapan penjuru mata angin, bangkit bersama mengumandangkan takbir, tahmid dan tahlil yang membahana memecah angkasa sampai ke langit biru, sebagai pertanda umat Islam mengenang kembali suatu peristiwa yang sangat bersejarah yang telah dialami oleh Nabi Ibrahim as. bersama istri dan anaknya Ismail.

Menakar makna hari raya qurban sesungguhnya menghantarkan kita untuk mengenal karakter keberanian Nabi Ibrahim melawan kebathilan dan berkorban dalam menegakkan kebenaran. Nabi Ibrahim rela dibakar hidup-hidup oleh Raja Namrud demi menegakkan kebenaran Ilahi, rela berpisah dengan ayahnya demi mempertahankan nilai-nilai tauhid, bahkan rela mengorbankan anaknya sendiri demi melaksanakan perintah Allah.

Semoga dengan semangat hari raya qurban ini kita mampu mengatasi berbagai ujian dan cobaan, bagi yang memiliki kemampuan hendaklah berkurban karena Allah, tersirat makna qurban yang diharapkan bukan saja memotong hewan, tetapi yang lebih penting adalah memotong dan menghilangkan sifat-sifat kehewanan yang sering menjelma dalam sikap takabur, angkuh dan sombong.  Wallahu A’lam (Adita@humasuin)

%d blogger menyukai ini: