Berita Humas: Sembari menikmati hari libur berakhir pekan di awal agustus bulan kemerdekaan ini, redaksi berita humas dan informasi akan menyajikan cuplikan potret kisah perjuangan hidup 33 tahun yang lalu, siapa sangka rektor UIN Mataram Prof. Dr. H. Mutawali adalah kuli bangunan di sebuah desa terpencil di Moyo Hilir Sumbawa Besar NTB, Ahad (05/08).

Sudah sejak lama sering diperdengarkan dalam beberapa diskusi kecil, guyonan dan bahkan di forum resmi, rektor tak pernah lupa sejarah masa lalu, beliau sering mengingat dan mengenang dan dengan bangga menceritakan pada siapa saja bahkan beliau langsung menceritakannya sendiri kepada bapak Menteri Agama sambil makan malam bersama di Sumbawa.

Tepatnya hari Ahad, 29 Juli 2018 adalah menjadi perjalanan napak tilas langkah kaki bersejarah yang menghantarkan pak Mutawali yang berkinginan kuat untuk menengok tempat yang pernah menempanya sebagai tukang rakit besi dan buruh bangunan pekerjaan membuat saluran irigasi di dataran tinggi yang tandus dengan upah harian Rp. 2 500 per hari.

Setelah beberapa kali tersesat akhirnya sampi jua pada masjid Jamik At-Taqwa Moyo Hilir, sejenak beliau berdiri di pekarangan masjid yang kini telah banyak berubah, dulu masjid itulah yang menjadi tempat membimbing anak mengaji pada malam hari dan sempat meninggalkan goresan kaligrafi Ayat Kursi pada dinding masjid yang hingga kini masyarakat masih mengenangnya.

Sudah 33 tahun berlalu tepatnya pada tahun 1985, dua tahun lamanya Mutawali kecil yang baru tamat MAN 1 Mataram langsung melanjutkan studi sebagai buruh bangunan, kini baru sempat kembali untuk menyapa kawan lama, sahabat dan masyarakat dengan tampilan yang berbeda.

Mutawali yang dulu adalah mutawali yang sekarang, kehadiranya di keluarga kecil sebagai bapak angkatnya dulu adalah tokoh agama terpandang namanya Lebe Abdullah yang sudah meninggal duapuluh tahun yang lalu, sekarang tingga anaknya yang bernama Uyun dan Layla yang menyambutnya dengan rasa kaget tak percaya bercampur haru dan bangga melihat kehadiran Mutawali.

Mutawali dan Uyun serta Layla sangat mudah membangkitkan memori 33 tahun yang silam, mereka diskusi riang gembira sambil mengabsen satu persatu nama-nama sahabat yang dulu akrab bersama mereka, sesekali terdengar kalimat syukur Allah Swt mempertemukan kita sehingga masih mendapatkan kesempatan untuk menyambung silaturahmi keluarga.

Pelajaran menarik dari kisah tersebut setidaknya menjadi catatan penting untuk kita tiru bahwa kesuksesan yang kita raih hari ini adalah bagian dari perjalanan sejarah masa lalu, tidak boleh kita melupakan teman lama karena mendapatkan teman baru, doa meraka masa lalu ketika kita bersama dalam kondisi yang serba tidak mungkin, Mutawali sang buruh bangunan 33 tahun yang silam jangankan bercita-cinta menjadi rektor, untuk menjadi dosen saja tidak pernah terbayang.

Subhanallah selalu ada cerita dalam setiap peristiwa, terimakasih keluarga besar Lebe Abdullah, kakak Uung dan Layla dan masyarakat Myo Hilir yang telah berbaik hati menjadi teman baik untuk Mutawali yang dulu kecil kurus yang kini adalah pemimpin yang banyak membawa perubahan untuk Universitas Islam Negeri Mataram. Wallahu A’lam (Adita@humasuin).

 

 

%d blogger menyukai ini: