Berita Humas
: Rektor Prof. Dr. H. Mutawali bersama jajaran Civitas Akademika Universitas Islam Negeri Mataram melaksanakan tasyakkuran bersama yang dikemas sebagai bagian dari cara merayakan tradisi lebaran topat yang dilaksanakan secara sederhana di gedung rektorat pada hari Jum’at (22/06).

Rektor ditengah acara tasyakuran bersama para pimpinan, pejabat dan seluruh staf yang juga dihadiri oleh Inpektorat Jenderal memberikan sedikit ulasan sejarah tentang asal mula lahirnya istilah lebaran topat yang berawal dari  kebiasaan para pendahulu mengadakan acara Ngurisang (potong rambut bayi), Namatang (khatam Al quran), dan Petaek Pesajik atau mengantar makanan dengan menu khusus ketupat ke masjid serta ziarah makam.

Dalam perkembangan terkini terlihat begitu semarak karena secara rutin masyarakat melaksanakan  tradisi yang digelar sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri yakni Lebaran Topat.  Lebaran topat merupakan tradisi turun temurun yang dilaksanakan setelah selesai menunaikan puasa sunnah bulan Syawal, yaitu puasa selama enam hari berturut-turut setelah Idul Fitri.

Lebih lanjut beliau menuturkan bahwa lebaran topat adalah sebuah analogi untuk membersihkan diri dari segala bentuk penyakit hati seperti iri, dengki, prasangka dan penyakit hati lainnya. Saat ini, Lebaran topat telah dikemas menjadi sebuah agenda tahunan bahkan dirayakan secara besar-besaran juga oleh pemerintah seperti yang terlihat di Makam Loang Baloq Kota Mataram.

Selain itu juga, Mutawali mengungkapkan bahwa ada makna sosial di balik perayaan topat, bukan sekedar perayaan saja tapi menjadi momentum sangat berharga bagi masyarakat untuk berbagi keceriaan, kegembiraan yang ditunjukkan dengan beragam cara sebagai nilai  silaturrahmi.

Apabila dihubungkan dengan sejarah peradaban islam, maka akan ditemui cerita dan proses masuknya agama Islam di Pulau Lombok dari Pulau Jawa, maka makna filosofi lebaran topat diperkenalkan pertama kali oleh Sunan Kalijaga yang memperkenalkan istilah “ketupat”.

Kata “ketupat” berasal dari kata “kupat atau singkatan dari ngaku lepat” yang berarti “mengakui kesalahan”. Sehingga diharapkan setiap orang secara sadar mengakui kesalahan dan saling memaafkan, serta melupakan kesalahan dengan cara memakan ketupat secara bersama.

Selain itu juga ada banyak makna filosofis yang dikandung dalam memaknai lebaran topat itu, setidaknya lebaran topat dimaknai sebagai simbol kebersamaan, keakraban, kekeluargaan, persahabatan dan bahkan sebagai bagian dari makna kesucian lahir batin yang dimanifestasikan dalam tujuan hidup yang sejati.  Wallahu A’lam (Adita@humasuin)

 

%d blogger menyukai ini: