Berita Humas: Rektor Universitas Islam Negeri Mataram Prof. Dr. H. Mutawali yang merupakan guru besar bidang ilmu filsafat Islam mengajak kepada seluruh civitas akademika UIN mataram melalui program Khazanah Romadhon yang diiisi dengan kajian rutin di masjid kampus satu setiap hari dan diikuti oleh semua unsur pimpinan, karyawan dan mahasiswa.

Topik kali ini, Senin (04/06) mengkaji tentang “Mengistigfarkan Istigfar” sebagai upaya memahami secara filosofi dalam memaknai istigfar. Kebanyakan kita sering melhihat dan mendengar orang rajin zikir atau mengamalkan amalan wirid baik sebelum solat ataupun setelah sholat, namun yang kita akan kaji kali ini adalah bagaimana menemukan makna zikir yang selaras dengan kata bathin sehingga berdampak langsung dalam prilaku kehidupan sehari-hari.

Untuk dapat memahami maka terlebih dahulu harus mengerti tentang makna lafaz zikir yang dibaca dan diamalkan seperti arti kata “Astagfirullah” sebagai kalimat zikir yang kita fahami secara umum adalah mengandung arti “Ya Allah Ampunilah Aku”.  Biasanya kata ampun kalau disederhanakan dalam kehidupan sosial kita adalah merupakan ungkapan kepasrahan atau menyerah sehingga terucap kata ampun atau memohon ampun.

Kalimat istigfar prinsipnya mengandung dua makna yaitu meminta untuk dimaafkan dan diampuni, dua kata tersebut memiliki konsekwensi yang berbeda, kalau saja disederhanakan dalam pergaulan kehidupan sosial sering kita temui istilah dimaafkan dan diampuni.  Seperti kasus dimedia massa banyak kasus yang sudah dimaafkan secara pribadi namun masih belum diampuni secara total sehingga tetap dilanjutkan proses hukumnya, namun kalau sudah diampuni maka otomatis sudah dimaafkan.

Imam Al Kurtubi menyatakan bahwa memaknai istigfar dengan memberikan dampak secara langsung dalam kehidupan, jika kalimat iztigfar masih sebatas melekat pada ritual zikir saja, namun belum melibatkan istigfar hati, sedangkan untuk merasakan makna istigfar yang sesugguhnya adalah apabila istigfar yang diucapkan selaras dengan kepasrahan dan penyesalan dalam hati.

Artinya bahwa untuk dapat merasakan dampak istigfar yang dilafazkan haruslah terkoneksi dengan istigfarnya hati, sehingga akan dapat memberikan dampak langsung dalam menjalankan kehidupan, jika tidak maka penting bagi kita untuk mengistigfarkan istgfar itu sendiri, sehingga betul-betul dapat memaknai makna istigfar yang dikehendaki oleh Allah Swt untuk memohon agar dimaafkan dan diampuni. Wallahu A’lam (Adita@humasuin)

%d blogger menyukai ini: