Berita Humas: 
Rektor Prof. Dr. H. Mutawali didampingi oleh sohibul Hajat Prof. Dr. H. Masnun Tahir sesaat sebelum dimulainya prosesi pengukuhan guru besar yang akan dilaksanakan di Auditorium UIN mataram didampingi juga oleh wakil dekan satu Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Dr. H. fahrurrozi terlihat mengikrom para tamu undangan, Kamis (29/03).

Sejak pukul 08.00 wita, Auditorium mulai terisi oleh para tamu yang datang dari berbagai penjuru dan kalangan, baik dari lapisan masyarakat,  tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pendidikan, pejabat daerah dan lainnya sangat antusias menghadiri undangan pengukuhan guru besar UIN mataram.

Prof. H. Mutawali dengan menggunakan kostum rapi berdasi berdiri di depan ruang rektor sambil mengamati persiapan acara, juga menyambut kedatangan para tamu undangan, beberpa tamu undangan yang merupakan guru dan juga tokoh agama disambut dengan hangat, tak terlihat beliau sebagai seorang dosen apalagi rektor, melainkan beliau menempatkan diri sebagai seorang murid yang hormat dan memuliakan guru.

Prof. H, Masnun sengaja mengundang lebih banyak dari kalangan para tokoh agama dan masyarakat yang notabenenya adalah para guru yang telah berjasa mendidiknya mulai dari guru ngaji di kampung halaman dulu yang kini masih hidup, para ustaz dan tuan guru juga diundang semua untuk secara bersama-sama mensyukuri dan berdoa untuk UIN Mataram.

Kesuksesan memperoleh guru besar antara Profesor H. Mutawali pada penghujung tahun 2017 lalu dan kemudian disusul oleh Profesor H. Mansun pada bulan ini sesugguhnya di luar faktor akademis ternyata karena sama-sama berasal dari nama kampung yang sama yaitu kalo Pak rektor dari Babakan Kebon sedangkan wakli rektor satu dari Kebon Randu Mantang Lombok Tengah, ternyata nama KEBON telah menjadi garis simetris kesamaan dalam proses perolehan guru besar.

Disamping itu juga, kedua guru besar yang kini aktif sebagai pengurus organisasi Nahdlatul Ulama tersebut sangat tinggi takzimnya pada guru, tidak sedikitpun menunjukkan diri sebagai guru besar atau professor dihadapan para guru dan ustaznya, melainkan selalu menempatkan diri sebagai seorang murid,  guru selayaknya dimuliakan dan hanya orang mulia yang selalu memuliakan orang mulia. Wallahu A’lam (Adita@humasuin)

%d blogger menyukai ini: