Berita Humas: Inspektur Jenderal Kementerian Agama RI Prof. Dr. Phil. H. M. Nur Kholis Setiawan, MA menyampaikan  amanat pembinaan dihadapan para pimpinan dan seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) yang berlangsung di Auditorium UIN Mataram, Kamis (21/03).

Rektor UIN Mataram Prof. Dr. H. Mutawali, M.Ag dalam pengantar pembinaan tersebut menyampaikan bahwa pembinaan yang dilakukan hari  ini sebagai upaya peningkatan kinerja ASN dan meminimalisir potensi terjadinya masalah pada setiap satuan kerja, termasuk di UIN Mataram.

Rektor mengajak semua pejabat dan ASN agar berkarya dengan sungguh-sungguh, menjalankan tugas jabatan dengan penuh amanah dan tanggung jawab. Beliau mengajak untuk melihat kondisi perkembangan lembaga pemasyarakatan di Indonesia sudah penuh penghuninya, belum lagi dari sisi anggaran Negara cukup terkuras hanya untuk proses hukum.

Mengawali pidatonya, Prof. Dr. Phil. H. M. Nur Kholis Setiawan, MA menyampaikan kutipan dalam mukadimah Kitab Fathul Mu’in karangan Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz bin Zainuddin Al-Malibari menjelaskan, “Ketahuilah para pembaca bahwa yang saya tulis didalam syarah ini tidak ada sesuatu yang baru, melainkan hanya menukil ulama-ulama terdahulu sebelum saya, akan tetapi ada juga sesuatu yang baru sebagai pembaharuan.”

Lebih lanjut beliau tegaskan bahwa terkandung makna penting prinsip tersebut sebagai landasan filosofis membangun sebuah lembaga dalam konteks kekinian.  Artinya bahwa diperlukan kecerdasan dalam menafsirkan kontinuitas sesuatu yang baik, yang telah dibangun pendahulu, disamping itu  juga sangat diperlukan inovasi sebagai pembaharuan untuk perubahan.

Nur Kholis menjelaskan, selain pengawasan, semua auditor wajib melakukan pembinaan dan pendampingan, bukan mencari-cari kesalahan.  Auditor yang terbagi menjadi tiga spesialisasi yakni audit kinerja untuk menghimpun indeks kinerja, audit operasional untuk memilih dan memilah satker, dan audit investigasi berdasarkan hasil temuan BPK dan pengaduan.

Irjen mengingatkan ASN UIN Mataram untuk terus meningkatkan kinerja. Masing-masing kita sebagai pimpinan maupun pegawai tidak cukup hanya benar, melainkan ada sisi lain yang harus dipertimbangkan yaitu sisi kebaikan, artinya bahwa kebenaran dan kebaikan harus seirama. Wallahu A’lam (Adita@humasuin)

%d blogger menyukai ini: