Berita Humas: Catatan khusus wakil rektor satu UIN Mataram Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag. dalam memaknai HAB Ke-72.  Adalah menjadi catatan hari yang bersejarah, setiap tanggal 3 Januari, seluruh Aparatur Sipil Negara di Lingkungan Kementerian Agama Republik Indonesia mengikuti upacara sebagai bagian dari expresi bahagia, gembira, dan do’a syukur yang setinggi-tingginya ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.

Semangat dan motivasi keagamaan adalah sumber kekuatan dalam meraih kemerdekaan, mempertahankan kedaulatan nasional, dan menjaga keutuhan NKRI. Agama mendapatkan kedudukan terhormat dalam tata kehidupan masyarakat, sehingga dijadikan sebagai salah satu sumber pembentukan hukum Nasional.

Agama menjadi ruh kehidupan kebangsaan, sesuai dengan dasar Ketuhanan Yang Maha Esa. Salah satu pejuang kemerdekaan dan tokoh pendiri Republik Indonesia, Hadji Agus Salim, dalam tulisannya pada tahun 1950 berjudul “Kementerian Agama dalam Republik Indonesia”, menjelaskan benang merah politik agama di Republik Indonesia yang berbeda dengan politik di masa kolonial.

Prinsip fundamental tersebut mengamanatkan supaya ajaran dan nilai-nilai agama diperankan sebagai pemberi arah sekaligus mendasari kehidupan kebangsaan kita yang ber-motto Bhinneka Tunggal Ika. Agama yang diyakini dan diamalkan oleh umatnya masing-masing harus menjadi unsur pembentuk Nation and Character Building bangsa Indonesia yang majemuk.

Karena itu, seluruh umat beragama harus menyadari dan disadarkan bahwa nilai-nilai agama merupakan unsur perekat integrasi nasional. Selain itu, berbagai program kementerian sebagai respons atas situasi dan dinamika terkini terkait kehidupan beragama dalam masyarakat era digital.

Lima prinsip Nilai Budaya Kerja makin dijiwai dalam sanubari setiap kita, serta dilengkapi dengan semangat kerja sama yang paripurna. Insyaallah, hasilnya akan nampak nyata dan jadi berkah bagi kita semua. Inilah sesungguhnya hakikat dari bekerja dengan berlandaskan agama.

Sebagai ASN Kementerian Agama yang kerap dinilai punya keunggulan religiusitas dituntut mengoptimalkan energi spiritual sebagai landasan kerja profesional. Sesuai kalimat “Ikhlas Beramal” pada logo Kementerian Agama, pengabdian pada masyarakat dan negara harus senantiasa diniatkan sebagai ibadah yang tulus.

Artinya, selalu sadar bahwa kerja kita bukan saja dinilai oleh manusia, tapi juga diperhitungkan oleh Tuhan Yang Maha Mengetahui. Demi menjaga ikatan agama dan bangsa di negara ini, kita harus menunjukkan bahwa kebaikan ajaran agama merupakan obor penerang bagi perbaikan kualitas manusia.

Hal itu untuk menepis anggapan bahwa kemajuan sebuah instansi atau pemerintahan tak ada relevansinya dengan agama. Justru sebaliknya, reformasi birokrasi yang berorientasi pada tingginya peradaban masyarakat sesungguhnya adalah perwujudan nilai-nilai agama.  (Adita@humasuin)

%d blogger menyukai ini: