Berita Humas: Edisi hari Ahad, 12 November 2017 kabar kampus akan menyapa dunia untuk lebih dekat mengenal para pejuang tangguh dibalik layar berkibarnya bendera UIN Mataram.  Ada baiknya kali ini kita mengenal lebih dekat dengan sosok pekerja rajin, ulet, sabar dan menyenangkan.  Begitulah kesan pertama yang akan dirasakan bagi siapa saja yang berinteraksi dengan Muhammad Salikin yang lebih akrab dipanggil ALI.

Pak Ali adalah termasuk tipe pekerja keras, pantang mengeluh dengan segala tugas dan beban yang diberikan kepadanya, mulai dari membersihkan kamar mandi, nyapu ruang kelas, nyapu halaman, buang sampah, potong rumput dan lainya, asal jangan disuruh nyetir mobil aja katanya. Sejak pertama kali masuk sebagai tenaga kontrak di kampus UIN mataram mulai tahun 2006 silam dan hingga kini sudah 11 tahun menikmati profesinya sebagai petugas kebersihan kampus.

Ali yang sering juga dipanggil Jhon, menuturkan bahwa kehadiranya sebagai keluarga besar di UIN Mataram berawal dari bisikan asmara melalui mimpi yang ketika itu sedang mengadu nasip sebagai pekerja kilang sawit di Malesiya. Suatu malam Ali bermimpi seakan ada suara yang memanggilnya untuk bekerja di kampus, keesokan harinya mimpi tersebut diceritakan pada rekan sejawatnya.  Setelah menerima berbagai masukan dan saran dari rekan dan juga keluarga di Lombok, maka beliau memutuskan untuk pulang dan melamar kerja di kampus.

Ternyata mimpi pak Ali menjadi nyata, dia diterima sebagai tenaga honorer yang berbekal selembar foto copy ijazah Sekolah Dasar, ternyata bisa menghantarkannya untuk mendapatkan pekerjaan. Sejak itulah dia terus menunjukkan etos kerja yang bagus dalam pengabdiannya di lembaga ini.

Sangat mudah mengukur tingkat kesungguhan dan keihlasan pak Ali sebagai tenaga honorer, setiap hari beliau pulang pergi dari rumahnya di desa pringgesele Lombok timur menuju mataram 63 KM kurang lebih 2 jam perjalanan.  Dinamika perjalanan pergi pagi pulang petang dengan ragam pariasi kendaraan pernah dinaiki, mulai dari sepeda motor, engkel, bemo, ojek dan bahkan pernah numpang mobil dam truk.

Semangat perjuangan bapak yang memiliki satu istri dengn tiga orang putra ini layak dijadikan renungan, anak pertama kini duduk di bangku kuliah jurusan KPI Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Mataram semester tiga, sedangkan yang nomer dua baru kelas 2 MTs  NW Pringgelsele, sedangkan yang ke 3 baru menginjak kelas 2 SD.  Sambil matanya berkaca-kaca, seakan ada pesan haru ketika pak Ali memuji istri dan anak-anaknya yang sangat sabar, tak jarang uang modal istrinya yang hanya jualan naget, sosis dan es keliling kampung sering diambilnya untuk ongkos ke mataram.

Jika secara rasional berhitung dari jumlah penghasilan sebagai tenaga honorer tidaklah seberapa, bahkan untuk kebutuhan ongkos saja kurang, apalagi untuk mencukupi kehidupan keluarga. Subhanalloh pak Ali sangat yakin dengan ketetapan Alloh yang telah mengatur dan menjamin rizki setiap hambanya, adapun profesi hanyalah sekedar ikhtiar kecil manusia saja, namun hasil Alloh yang akan mencukupinya.

Ali Jhon menegaskan, tak masalah meski setiap hari berurusan dengan sampah, keyakinan yang kuat mengatakan inilah jalan yang ditujjukkan oleh Aloh swt sebagai syarat mencari napkah untuk menggapai berkah, dalam bahasa sederhananya adalah biar sampah yang pentiing berkah. Wallohua’lam (Adita@humasuin)

 

%d blogger menyukai ini: