Berita Humas: UIN Mataram melanjutkan jelajah diskusi para ahli dalam kegiatan workshop metodologi pembelajaran dan penelitian integratif yang berlangsung pada hari Sabtu, 28 Oktober 2017 di Fave Hotel. Pertemuan ini dihajatkan untuk mempertegas rumusan bangunan keilmuannya yang kini disebut “Horizon Ilmu” sebagai payung segala kegiatan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi di lingkungan UIN Mataram.  Selain itu juga horizon ilmu ini menjadi distingsi tersendiri bagi UIN Mataram secara kelembagaan.

Dr. H. Masnun Tahir selaku penangungjawab kegiatan workshop mengedepankan tema “Metodologi Pembelajaran dan Penelitian Integratif: Penguatan Implementasi Horizon Keilmuan UIN Mataram”. Dalam sambutan pengantarnya beliau menjelaskan beberapa tujuan kegiatan ini untuk mengidentifikasi, mensistematisasi dan mendeskripsikan berbagai aspek yang menjadi cakupan horizon keilmuan UIN Mataram, sehingga diperoleh informasi dan pemahaman yang utuh bagi seluruh civitas akademika dan para stakeholders yang berkepentingan.  Selain itu juga untuk merumuskan konsep metodologis operasional implementasi horizon keilmuan dalam bidang pembelajaran dan penelitian, sehingga dapat dipedomani oleh para dosen di lingkungan UIN Mataram.

Lebih lanjut wakil rektor satu telah mengundang narsumber ahli penelitian integratif   Prof. Dr. M. Arskal Salim GP, MA dan mengharapkan partisipasi aktif peserta workshop yang berjumlah 60 orang dari kalangan dosen semua fakultas dan disiplin ilmu. Kita berharap adanya hasil diskusi yang komprehensif dan sistematis tentang horizon keilmuan, untuk selanjutnya dipublikasikan dalam penerbitan buku terectak. Kemudian adanya rumusan metodologis implementatif yang dapat dipedomani dalam aktivitas pembelajaran dan penelitian yang bersifat integratif di lingkungan UIN Mataram.

Rektor UIN Mataram Dr. H. Mutawali dalam sambutanya menegaskan bahwa konskuensi logis dari horizon keilmuan adalah lahirnya kebutuhan dan desakan agar dapat diterjemahkan secara empiris dan terukur dalam segala aktivitas akademik UIN Mataram. Karena memang, integrasi keilmuan yang menjadi ruhnya, pada aspek implementasinya dirasakan masih dikotomik dalam praksis pendidikan dan pembelajaran, dan kegiatan riset para dosen.

Sejauh ini masih dirasakan adanya kecenderungan masing-masing dosen untuk melakukan pembelajaran dan penelitian dengan epistimologi keilmuannya masing-masing. Meskipun secara metodologis diupayakan untuk saling berdialektika, dalam realitasnya masih cenderung berjalan sendiri-sendiri, dan berjalan linier sesuai dengan relnya masing-masing. Kita berharap melalui kegiatan ini menjadi solusi cerdas untuk menggali metodologi pembelajaran dan penelitian integratif sebagai penyempurnaan horizon keilmuan UIN Mataram.

Lebih lanjut beliau tegaskan, di tengah tuntutan UIN Mataram sebagai  lembaga keilmuan dan keislaman yang di dalamnya memuat Tri Darma Perguruan Tinggi, harus mampu meningkatkan peran dan fungsinya dalam upaya memfasilitasi dan memberdayakan civitas akademika untuk melakukan penelitian dan pembelajaran yang mempertimbangkan sinergi dan integrasi dua kutub keilmuan, sains dan Islam. Walohua’lam. (Adita@humasuin)

 

%d blogger menyukai ini: