Berita Rektorat: Diskusi isu gender kontekstual yang dilaksanakan oleh LP2M UIN Mataram mengundang narsaumber ahli yang juga sebagai aktivis gender Dr. Maksum dari UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta. Ketua LP2M Dr. Sobri dalam pengantarnya menyampaikan bahwa diskusi  terbatas yang menghadirkan peserta hanya 25 orang dosen muda di lingkup UIN Mataram dengan harapan nantinya dapat mengintegrasikan gender kedalam kurikulum, sesuai dengan tema yang diangkat yaitu “integrasi pengarusutamaan gender dalam kurikulum di perguruan tinggi”.

Tuti Harwati sebagai ketua Pusat Studi gender dan Anak LP2m UIN Mataram dalam pengantar diskusi mengungkapkan, sesungguhnya emansipasi yang sebenarnya adalah bentuk pemberian hak kepada wanita untuk mengembangkan diri dan kemahiran profesional agar bisa bergandeng bahu dengan lelaki dalam membangun negara. Alangkah lebih bijaksananya jika kita mengartikan dan memaknai emansipasi wanita sebagai salah satu bentuk kerjasama antara laki-laki dan wanita dalam menjalankan kehidupan. Sebagai seorang partner, tentu saja mempunyai kedudukan yang setara dan mempunyai hak yang sama tanpa adanya perbedaan yang mesti di beda-bedakan.

Rektor UIN Mataram dalam sambutananya pada saat membuka acara diskusi di ruang rapat utama yang didampingi oleh wakil rektor bidang akademik dan ketua Lp2m serta ketua pusat studi gender dan anak, menegaskan bahwa kegiatan diskusi ini sangat penting sebagai bentuk tindak lanjut kerjasama lembaga dengan kementerian pemberdayaan perempuan.  Kita perlu menyadari bahwa peran wanita sangatlah besar dalam berbagai bidang, baik dalam peran pendidikan, sosial, budaya, ekonomi, bahkan peranan wanita telah kita rasakan diranah publik.

Lebih lanjut Dr. H. Mutawali mengungkapkan relevansi emansipasi dan kesetaraan gender bila dilihat dari garis sejarah Raden Ajeng Kartini sebagai sosok yang sangat berpengaruh dan melegenda melalui bukunya “ Habislah gelap terbitlah terang” dan karena kutipan buku itulah munculah istilah emansipasi wanita. Berkat jasa beliau, diera globalisasi ini peran wanita bukanlah suatu hal yang tabu untuk melakukan aktivitas. Bahkan raja Arab Saudi baru-baru ini mengeluarkan dikrit yang memperbolehkan wanita mengendarai kendaraan sendiri yang akan mulai berlaku pada tahun 2018 nanti karena sekarang sedang dalam kajian tehnis dan prosedur.

Mengahiri sambutanya, Rektor menyampaikan bahwa UIN Mataram bersama UIN Syarif Hidayatulloh satu bahasa dalam menafsirkan Undang-undang No. 7 tahun 1984 yang mengamanahkan tentang bagaimana peran laki-laki untuk mendukung kemajuan perempuan, peran penting perempuan perlu diangkat menjadi upaya unggulan sebagai dukungan terhadap peran Presiden Republik Indonesia sebagai Duta untuk program “He for She” yang dicanangkan oleh PBB dalam mengupayakan pemberdayaan perempuan, kesetaraan gender dan perlindungan anak.  (Adita@humasuin)

 

 

%d blogger menyukai ini: