Perpustakaan adalah sebuah organisasi yang berfungsi sebagai penunjang kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Walaupun statusnya hanya sebagai sebuah Unit Pelayanan Teknis, namun perpustakaan mempunyai peran strategis. Peranannya terutama dalam pelayanan bahan pustaka, pengolahan informasi, serta konservasi dan preservasi informasi bahan pustaka ternyata menempatkan perpustakaan menjadi salah satu unsur penunjang yang sangat urgen di dalam dinamika kehidupan akademik sebuah perguruan tinggi.

Namun kinerja perpustakaan sesungguhnya sangat tergantung kepada kinerjasertifikasipustakawan yang mengelola perpustakaan tersebut. Motivasi, ketulusan, integritas, dan prestasi kerja adalah unsur yang dituntut pemustaka dari seorang pustakawan. Berbagai fasilitas yang disediakan perpustakaan tidak akan membuat pemustaka puas bila tidak didukung dengan pelayanan prima dari seorang pustakawan.

Pengakuan akan profesi pustakawan tertuang di dalam Undang-undang No. 43 tahun 2007 tentang perpustakaan, pada pasal 1 (8) menyatakan bahwa pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengolahan dan pelayanan perpustakaan.

Tetapi pengakuan tersebut di atas harus diikuti dengan peningkatan kualitas pustakawan dan pengakuan bahwa profesi pustakawan dapat memiliki daya saing, khususnya dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) di tahun 2015. Dan untuk mendapatkan pengakuan tersebut, maka sertifikasi profesi menjadi suatu keharusan yang diperuntukkan bagi profesi pustakawan. Sertifikasi pustakawan bertujuan untuk mendapatkan pengakuan profesi yang berdampak kepada pengembangan karir dan pangkat.

Lembaga yang bertanggung jawab dalam mensertifikasi pustakawan adalah Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Pustakawan di Perpustakaan Nasional RI.  Lembaga ini adalah lembaga yang independen yang mendapat lisensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dan bertindak sebagai penyelenggara sertifikasi pustakawan secara Nasional. Selain memberikan lisensi kepada LSP Pustakawan, BNSP juga melakukan surveilance atas kinerja LSP setahun sekali.

Proses sertifikasi dilakukan secara sistematis dan objektif melalui asesmen. Sistematis artinya proses sertifikasi dilakukan sesuai dengan prosedur, metode, dan sumber daya. Dan objektif artinya bahwa proses sertifikasi dilakukan dengan mengacu kepada Standard Kompetensi Kinerja Nasional Indonesia (SKKNI) Bidang Perpustakaan.

Kompetensi Pustakawan yang akan diuji oleh LSP mengandung unsur pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Di dalam pekerjaan, kompetensi diartikan sebagai kemampuan yang bisa diperagakan untuk menerapkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja sesuai dengan persyaratan jabatan / pekerjaan dalam melaksanakan tugas personal secara efektif sesuai dengan aturan yang berlaku. Seorang pustakawan dinyatakan kompeten bila telah memenuhi unsur-unsur di atas.

Komponen SKKNI Bidang Perpustakaan yang menjadi acuan dalam asesmen pustakawan terdiri dari tiga macam kompetensi. Kompetensi tersebut adalah kompetensi umum, kompetensi inti, dan kompetensi khusus. Kompetensi umum adalah kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh setiap pustakawan dan diperlukan untuk melakukan tugas di perpustakaan. Kompetensi inti adalah kompetensi fungsional yang harus dimiliki oleh setiap pustakawan dalam menjalankan tugas perpustakaan. Dan kompetensi khusus adalah kompetensi tingkat lanjut yang bersifat spesifik dan berfungsi untuk meningkatkan aktualisasi diri pustakawan.

Pihak yang melakukan asesmen terhadap pustakawan disebut asesor kompetensi. Asesor tersebut terdiri dari seseorang atau sekelompok orang yang mempunyai kompetensi relevan dan memenuhi persyaratan yang diangkat oleh LSP dalam jangka waktu tertentu. Asesor bertugas meng-ases kompetensi asesi (pustakawan yang diuji) sesuai dengan ketentuan yang berlaku di LSP Pustakawan.

Proses asesmen yang dilakukan terhadap pustakawan IAIN Mataram berlangsung selama 3 hari, hari selasa 27 s.d Kamis 29 September 2016 bertempat di Lombok Raya Hotel Jl. Panca Usaha No. 11 Mataram. Tim asesor yang diketuai oleh Dra. Lily Suarny, MM. beranggotakan 4 orang, yaitu Dra. Adriati, M.Hum., Agus Rifai, M.Ag., Luthfiati Makarim, MM., dan Hendra Setiawan, S.Kom. Proses asesmen dilakukan berdasarkan klaster yang dipilih oleh pustakawan. Ada 4 macam klaster yang dipilih oleh 10 orang pustakawan sesuai dengan bidang kerjanya, yaitu klaster pengembangan koleksi (1 orang), klaster pengolahan bahan perpustakaan (3 orang), klaster layanan perpustakaan (4 orang), dan klaster pemasyarakatan perpustakaan (2 orang).

Setelah asesmen dilakukan, maka diadakan sidang pleno untuk menentukan status pustakawan sebagai kompeten atau belum kompeten. Untuk menjaga objektivitas asesor tidak boleh ikut dalam menentukan keputusan. Jika seorang pustakawan dinyatakan lulus dalam proses asesmen, maka pustakawan tersebut berhak mendapatkan Sertifikat Kompetensi Pustakawan yang merupakan pengakuan atas penguasaan kompetensi pada bidang perpustakaan tertentu. Sertifikat tersebut dikeluarkan oleh BNSP dan berlaku selama 3 tahun. Dari proses asesmen yang dilakukan, 80% pustakawan IAIN Mataram dinyatakan kompeten.

Untuk menjaga kompetensi pustakawan di tempat kerja, LSP melakukan surveilance setahun sekali dengan berbagai metode. Tujuan surveilance adalah untuk mengetahui dan memantau ketepatan dan kesesuaian pemegang sertifikat kompetensi dengan pelaksanaan tugas di instansi.

Manfaat sertifikasi pustakawan terhadap pengembangan karir belum secara nyata diatur oleh pemerintah. Tetapi untuk pengembangan diri pustakawan yang telah tersertifikasi dapat dikembangkan oleh pustakawan itu sendiri. Pustakawan yang bersertifikasi dapat dipilih dan diikutsertakan dalam berbagai kegiatan dan kompetisi yang dapat mengangkat aktualisasi diri mereka. Sertifikasi pustakawan melalui kegiatan asesmen pustakawan yang dilakukan oleh LSP akan mampu meningkatkan motivasi pustakawan dalam pengembangan karir dan potensi diri. Dan secara tidak langsung akan mengangkat citra dan nama baik lembaga.

%d blogger menyukai ini: